Semoga bermanfaat

Kombinasi dari rumusan kata per kata yang memiliki isi dan makna tersendiri. Semoga dapat memberi manfaat bagi yang membaca. Salam kenal dari saya. ^^

Jumat, 15 Januari 2021

Literasi

 Apa itu literasi?

    Istilah literasi selalu  berkaitan dengan  kemampuan seseorang dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis. Berkembangnya zaman, pemahaman, dan penalaran, literasi tidak selalu identik dengan hal tersebut. Literasi bisa sangat luas cakupannyaKirsch dan Jungeblut dalam buku Literacy: Profile of America’s Young Adult mendefinisikan literasi kontemporer sebagai kemampuan seseorang dalam menggunakan informasi tertulis atau cetak untuk mengembangkan pengetahuan sehingga mendatangkan manfaat bagi masyarakat. Dalam perkembangan waktu juga, pengertian literasi bukan hanya berkaitan dengan keaksaraan atau bahasa, tetapi berkembang menjadi konsep fungsional pada dasawarsa 1960-an, yaitu literasi berkaitan dengan berbagai fungsi dan keterampilan hidup (Sofia Valdivielso Gomez, 2008). 

    Konsep Literasi dipahami sebagai seperangkat kemampuan mengolah informasi, jauh di atas kemampuan menganalisa dan memahami bahan bacaan. Dengan kata lain, literasi bukan hanya tentang membaca dan menulis, tetapi juga mencakup bidang lain, seperti ekonomi, matematika, sains, sosial, lingkungan, keuangan, bahkan moral (moral literacy).

Dalam dunia pendidikan, serbuan teknologi informasi yang semakin gencar dalam dunia pendidikan menggunakan istilah multiliterasi, bahkan multiliterasi kritis (critical multiliteracies). Secara sederhana dapat dikatakan istilah ini menunjukan pada kondisi mampu secara kritis menggunakan berbagai wahana dalam berkomunikasi.~

Kamis, 18 Juni 2020

Contoh Feature

Dari Petani untuk Calon Jurnalis

Dari Kadun, 24 Juni 2015

        Kesadaran bahwa pendidikan begitu penting bagi anak-anaknya dan kewajiban menuntut ilmu menjadi penyemangat bagi Kadun untuk memperjuangkan keinginan anaknya menjadi calon jurnalis. Tak mengenal apa pekerjaan yang ia lakoni dan tak perduli berapa besar biaya yang dikeluarkan untuk membiayai sekolah anaknya.

        Sejak tahun 2010, anaknya mulai duduk dibangku perkuliahan. Bermodalkan hasil sawah yang didapatkannya ketika musim panen lalu, ia mampu memasok kebutuhan biaya yang harus dibayarnya. Mulai dari pembayaran DPP jurusan Komunikasi yang agak mahal, semua pembayaran dikampus hingga pembayaran uang kos.

        Kadun adalah seorang petani di sebuah desa yang terletak di kecamatan Pandaan, kabupaten Pasuruan. Umurnya yang sudah setengah abad tak mengahalangi niat baik anaknya untuk menuntut ilmu. Dia tak pernah bosan menjalankan rutinitas yang sudah lama ia lakoni sejak kecil. Mulai berangkat kesawah sebelum matahari terbit kemudian pulang untuk sholat dhuhur dan kembali lagi kesawah sampai sebelum matahari tenggelam.

   "Begitulah rutinitas saya setiap hari, kami tak menyebutnya ke sawah melainkan ke kantor. Bukan hanya orang kota saja yang ke kantor. Petani seperti saya juga ke kantor, yakni sawah, ucapnya dengan sedikit tawa.

        Bapak beranak tiga ini tak ingin nasib anaknya berakhir seperti dirinya yang harus putus sekolah sejak Sekolah Dasar lantaran keterbatasan dana. Ia memang lahir dari keluarga miskin pasangan petani Syukur (alm) dan Warsini (alm). Semua pekerjaan ia lakoni untuk menutupi biaya hidupnya. Mulai menjadi petani, tukang panggul gabah hingga menjadi makelar gabah di desanya.

        Jika petani lain akan kaya dengan hasil panennya ketika waktu panen tiba, tidak dengan petani yang satu ini. Pekerjaan yang dilakoninya sebagai makelar gabah di desanya menuntutnya untuk berhutang demi menutupi pembayaran gabah yang dijual kepadanya. Dia harus mengangkut gabah yang dijual kepadanya, satu-persatu karung gabah diangkutnya ke gudang dengan motor Suzuki yang sudah tua. Karung demi karung diangkatnya ke atas timbangan untuk ditimbang. Kemudian ditatanya dengan rapi tumpukan gabah itu didalam gudang menunggu giliran untuk dijemur dan menunggu waktu yang tepat untuk dijual agar mendapatkan keuntungan yang sepadan. Akan tetapi, tak jarang juga ia mengalami kerugian jika sewaktu-waktu harga gabah atau kedelai turun.

        Baginya, tak gampang menjadi seorang petani. Ia harus mampu memutar otak agar hasil panen bisa mencukupi semua kebutuhan hidup. Meskipun hasil panen jika dihitung kelihat banyak, tetapi sebenarnya keuntungan yang didapatkannya tak sebanding dengan modal yang digunakan untuk menanami kembali sawahnya dan perawatannya.

  

Arti Penting Pendidikan

        Meskipun ia hanya seorang petani, tetapi dia begitu mengerti akan pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya. Ia paham bahwa perkembangan dunia tidak dapat dipungkiri akan bertambah maju. Jika anak-anaknya tidak mengenyam pendidikan, maka akan jauh tertinggal dibelakang. Ini semua dilakukannya lantaran memang sudah kewajibannya sebagai orang tua untuk menyekolahkan anaknya.

         Kalau orang di desanya memilih untuk mencukupkan pendidikan anaknya sampai bangku sekolah menengah keatas, tidak dengan Cak Kat, sapaan akrabnya. Cak Kat begitu miris melihat realitas apa yang terjadi didesanya. Padahal menurutnya kalau dilihat dari sisi ekonomi, mereka lebih mampu bahkan berlebih jika mau menyekolahkan anak-anaknya sampai perguruan tinggi.

         Sedikit bercerita tentang keadaan kampungnya, cak kat mengatakan bahwa dari ratusan anak muda di desa, bisa diitung dengan jari yang mau meneruskan pendidikannya dan tau arti pentingnya pendidikan. Sebagian dari orang tua masih belum mengerti akan pentingnya menuntut ilmu, begitu juga dengan anak-anaknya. Yang terlintas dipikiran masyarakat hanya bagaimana mendapatkan kerja bermodalkan ijazah SMA.

         Bahkan masyarakat sudah pesimis terlebih dahulu tidak akan mampu menyelesaikan administrasi pembayaran selama sekolah. Padahal, kalau mereka niat dan mau pasti akan dipermudah jalannya oleh Allah, rezeki itu sudah ada yang mengatur, apalagi buat pendidikan ada saja rezeki yang datang ketika tiba waktu pembayaran ujarnya dengan yakin.

         Cak Kat begitu bersyukur anak-anaknya mengerti akan pentingnya pendidikan. Ia hanya perlu mendukung dan mendoakan. Sosok yang begitu ramah ini tak ingin apa yang ia alami dialami pula oleh anaknya. Ia berusaha sekuat tenaga bahkan rela mengorbankan apapun demi anaknya. Satu hal yang dipikirkannya hanyalah bagaimana mencari rezeki yang barokah untuk membiayai anak-anaknya sekolah. Tak peduli bagaimana keadaan tembok rumah yang mulai mengelupas, tak peduli atap rumah yang mulai bocor dan tak peduli betapa tuanya motor yang menemani aktivitasnya sehari-hari. Baginya kalau semua masih bisa digunakan, ia tidak akan mengganti dengan yang baru.

         Menurutnya, menuntut ilmu sampai setinggi-tingginya itu penting. Orang yang berilmu dan dapat bermanfaat bagi masyarakat akan mempunyai derajat tersendiri. Tak mau kalah dengan anak-anaknya, ia juga menuntut ilmu dengan caranya sendiri. Suami dari Nasiah ini secara rutin membaca tafsiran ayat demi ayat yang terdapat di Al Quran untuk mendamaiakan hati dan pikirannya. Dengan begitu, berarti ia sudah menambahkan sedikit ilmu ke memory yang dipunyainya untuk diamalkan suatu saat nanti ketika dibutuhkan.

  

Pandangannya Tentang Jurnalis

        Kadun sebagai sosok ayah sekaligus kepala keluarga tak memaksakan anaknya untuk mengikuti kehendaknya dalam menentukan masa depan. Ia percayakah semua masa depan kepada anaknya masing-masing. Karena menurutnya, yang akan menjalani kehidupan itu anaknya bukan dirinya, ia hanya perlu mengarahkan serta mendoakan apa yang dilakukan anaknya untuk meraih masa depan yang diinginkan.

         Termasuk pilihan yang dijalankan putri kedua-nya yang memilih untuk menggeluti dunia jurnalistik. Sebenarnya cak kat kurang setuju dengan pilihan anaknya, akan tetapi ia sadar bahwa bidang itu yang diminati putri semata wayangnya. Baginya menjadi seorang jurnalis itu cukup berat, seorang jurnalis harus lari kesana kemari mengejar narasumber untuk mendapatkan informasi. Seorang jurnalis harus dituntut untuk hidup dibawah tekanan garis kematian. Seorang jurnalis tentu bakal menghabiskan waktunya untuk terjun di lapangan dengan resiko kematian yang mengancam kapanpun, apalagi kalau misalkan nantinya akan ditugaskan di daerah konflik.

         "Sebenarnya saya lebih setuju kelak anak saya menjadi seorang guru lantaran ia seorang perempuan," ucap pria ramah ini. 

        Namun, ia sadar tak mungkin ia memaksakan kehendaknya. Ia begitu menyayangi putra-putrinya dengan caranya sendiri. Sosok ayah satu ini membiarkan anaknya untuk menempuh jalan kesuksesannya masing-masing. Entah apa yang bakal dilakukan anaknya, asalkan itu pekerjaan yang halal dengan sepenuh hati orang tua akan mendukung dan senantiasa mendoakan.

        "Kita tak akan tau apa yang akan terjadi dimasa depan, yang terpenting sekarang kita berusaha dan berdoa. Semua sudah ada yang menentukan," lontar cak Kad dengan yakin dan mantap.

         Mengakhiri ceritanya, sebagai orang tua ia berharap dimanapun putra putrinya berada, kelak anak-anaknya mampu mengamalkan ilmu yang diperolehnya saat ini untuk turut memajukan bangsa dan Negara. Ia berharap kelak anaknya akan bermanfaat bagi masyarakat. Sebab ia percaya bahwa sebaik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lainnya.


Analisis Wacana Kritis

        Analisis wacana kritis (AWK) adalah sebuah upaya atau proses (penguraian) untuk memberi penjelasan dari sebuah teks (realitas sosial) yang mau atau sedang dikaji oleh seseorang atau kelompok dominan yang kecenderungannya mempunyai tujuan tertentu untuk memperoleh apa yang diinginkan. Artinya, dalam sebuah konteks harus disadari akan adanya kepentingan. Oleh karena itu, analisis yang terbentuk nantinya disadari telah dipengaruhi oleh si penulis dari berbagai faktor. Selain itu terdapat makna dan citra yang diinginkan serta kepentingan yang sedang diperjuangkan.

        Analisis wacana yang dimaksudkan adalah sebagai upaya pengungkapan tujuan tersembunyi dari subjek (penulis) yang mengemukakan suatu pernyataan. analisis wacana kritis menggunakan bahasa bahasa dalam teks yang dianalisis, tetapi bahasa yang dianalisis dalam AWK berbeda dengan studi bahasa dalam pengertian linguistik tradisional. Bahasa yang dianalisis oleh AWK bukan menggambarkan aspek bahasa saja, tetapi juga menghubungkannya dengan konteks. Konteks dalam hal ini berarti bahasa yang dipakai untuk tujuan tertentu termasuk di dalamnya praktik kekuasaan. AWK melihat bahasa sebagai fakta penting, yaitu bagaimana bahasa digunakan untuk melihat ketimpangan-ketimpangan kekuasaan dalam masyarakat.

        Teun van Dijk (1998) mengemukakan bahwa AWK digunakan untuk menganalisis wacana-wacana kritis, diantaranya politik, ras, gender, kelas sosial, hegemoni, dan lain-lain. Selanjutnya Fairclough dan Wodak (1997: 271-280) meringkas tentang prinsip-prinsip ajaran AWK sebagai berikut:

1)      Membahas masalah-masalah sosial

2)      Mengungkap bahwa relasi-relasi kekuasaan adalah diskursif

3)      Mengungkap budaya dan masyarakat

4)      Bersifat ideologi

5)      Bersifat historis

6)      Mengemukakan hubungan antara teks dan masyarakat

7)      Bersifat interpretatif dan eksplanatori

ANALISIS WACANA KRITIS (AWK)



A.    Pengertian Analisis Wacana Kritis
        Analisis wacana kritis (AWK) adalah sebuah upaya atau proses (penguraian) untuk memberi penjelasan dari sebuah teks (realitas sosial) yang mau atau sedang dikaji oleh seseorang atau kelompok dominan yang kecenderungannya mempunyai tujuan tertentu untuk memperoleh apa yang diinginkan. Artinya, dalam sebuah konteks harus disadari akan adanya kepentingan. Oleh karena itu, analisis yang terbentuk nantinya disadari telah dipengaruhi oleh si penulis dari berbagai faktor. Selain itu harus disadari pula bahwa di balik wacana itu terdapat makna dan citra yang diinginkan serta kepentingan yang sedang diperjuangkan.
                             
B.     Karakteristik Analisis Wacana Kritis
         Berikut ini disajikan karakteristik penting dari analisis wacana kritis. Bahan diambil dari tulisan Teurn A. van Dijk, Fairclough, Wodak.

1.      Tindakan
         Prinsip pertama, wacana dipahami sebagai sebuah tindakan (action). Dengan pemahaman semacam ini mengasosiasikan wacana sebagai bentuk interaksi. wacana bukan ditempatkan seperti dalam ruang tertutup dan internal. Orang berbicara atau menulis bukan ditafsirkan sebagai ia menulis atau berbicara untuk dirinya sendiri, seperti kalau orang sedang mengigau atau di bawah hipnotis. Seseorang berbicara, menulis, dan menggunakan bahasa untuk berinteraksi dan berhubungan dengan orang lain. Dengan pemahaman semacam ini, ada beberapa konsekuensi bagaimana wacana harus dipandang. Pertama, wacana dipandang sebagai sesuatu yang bertujuan, apakah untuk mempengaruhi, mendebat, membujuk, menyangga, bereaksi, dan sebagainya. Seseorang berbicara atau menulis mempunyai maksud tertentu, baik besar maupun kecil. Kedua, wacana dipahami sebagai sesuatu yang diekspresikan secara sadar, terkontrol, bukan sesuatu yang di luar kendali atau diekspresikan di luar kesadaran.              

2.      Konteks
         Analisis wacana kritis mempertimbangkan konteks dari wacana, seperti latar, situasi, peristiwa, dan kondisi. Wacana di sini dipandang diproduksi, dimengerti, dan dianalisis pada suatu konteks tertentu. Mengikuti Guy Cook, analisis wacana juga memeriksa konteks dari komunikasi: siapa yang mengkomunikasikan dengan siapa dan mengapa; dalam jenis khalayak dan situasi apa; melalui medium apa;  bagaimana perbedaan tipe dan perkembangan komunikasi; dan hubungan untuk masing-masing pihak. Tiga hal sentaralnya adalah teks, konteks, dan wacana.Teks (semua bentuk bahasa, bukan hanya kata-kata yang tercetak di lembar kertas, tetapi semua jenis ekspresi komunikasi). Konteks (memasukan semua jenis situasi dan hal yang berada diluar teks dan mempengaruhi pemakaian bahasa, situasi dimana teks itu diproduksi serta fungsi yang dimaksudkan). Wacana dimaknai sebagai konteks dan teks secara bersama. Titik perhatianya adalah analisis wacana menggambarkan teks dan konteks secara bersama-sama dalam proses komunikasi. Titik tolak dari analisis wacana di sini, bahasa tidak bisa dimengerti sebagai mekanisme internal dari linguistik semata, bukan suatu objek yang diisolasi dalam ruang tertutup. Bahasa di sini dipahami dalam konteks secara keseluruhan.
         Ada beberapa konteks yang penting karena berpengaruh terhadap produksi wacana. Pertama, partisipan wacana, latar siapa yang memproduksi wacana. Jenis kelamin, umur, pendidikan, kelas sosial, etnis, agama, dalam banyak hal relevan dalam menggambarkan wacana. Misalnya, seseorang berbicara dalam pandangan tertentu karena ia laki-laki, atau karena ia berpendidikan. Kedua, setting sosial tertentu, seperti tempat, waktu, posisi pembicara dan pendengar atau lingkungan fisik adalah konteks yang berguna untuk mengerti suatu wacana. Misalnya, pembicaraan di tempat kuliah berbeda dengan di jalan. Setting, seperti tempat itu privat atau publik, dalam suasana formal atau informal, atau pada ruang tertentu memberikan wacana tertentu  pula. Berbicara di ruang kelas berbeda dengan berbicara di rumah dan juga di pasar, karena situasi sosial atau aturan yang berbeda.

Selasa, 26 Juli 2016

Ini Lebaran



Pagi cerah menjelang
Takbir berkumandang
Pelataran masjid penuh orang berkain putih putih
Ini lebaran
Penuh suka dan cita
Penuh ramah tamah dan keakraban
Bermaaf-maafan
Ini lebaran
Pintu rumah terbuka di mana-mana
Berduyun orang pergi ke rumah saudara
Baju rapih khas muslim muslimah hilir mudik sepanjang jalan
Oh senangnya
Damainya

by nichlanadya

puisi

AIR


Seperti burung merpati yang ingin terbang melambung tinggi ke angkasa
Namun tak kuasa
Seperti burung merpati yang ingin berkicau nyaring layaknya burung pipit
Namun tak bisa
Ini lah aku senandung suara yang  sedang berbunga
Ingin suka cita menabur keharuman
Ingin suka cita membagi keceriaan kebahagiaan
Tapi bungaku berbunga saat musim kering kerontang
Berbunga tapi sekarat air
Air yang diharapkan tak kunjung ada
Hanya tetesan yang bertetes dengan ragu
Entah dunia apa ini
Sialnya dunia di sampingku tak sekering kerontang duniaku
Ada rumput hijau yang tumbuh subur
Dengan air yang mengalir
Air ? mengalir?
Apakah  air itu sama dengan airku
Yang telah membuatku berbunga
Tetapi tiba tiba berubah menjadi tetesan air 

by nichlanadya

Selasa, 05 April 2016

Sepotong Jiwa yang Bisa dalam Beragam Rupa




Seusai melewati jalan yang berliku, berkelok kelok dan berangin tibalah penulis di sebuah tempat. Apabila dilihat dari fisiknya tidak begitu teristimewa sebenarnya, terkesan simpel dan minimalis. Ukurannya tidak begitu lebar maupun panjang. Jauh dari suasana ketenangan kecuali saat tengah malam tiba. Di ruangan tersebut sering muncul beragam ekspresi yang dihadirkan oleh orang orang yang berkunjung. Penulis berharap saat dia menginjakan kaki dalam ruangan tersebut dan berniat tinggal beberapa saat di ddalam ruangan tersebut, dia juga akan tertular sedikit keberkahan dari  pencipta ekspresi-ekspresi hangat dan murni sehingga dapat membantu penulis untuk memotivasi dan menyelesaikan tugas merangkai kata dan bahasa dalam suatu bentuk kajian pada sebuah puisi.
Istilah untuk memulai dan membiasakan sesuatu harus dipaksa mungkin ada benarnya. Saat penulis mendapat tugas untuk lebih mendalami dan menelaah mengenai puisi mau tidak mau harus membiasakan berdekatan dengan puisi atau seperti istilah yang sering digunakan yakni PDKT (pendekatan) dengan puisi. Penulis yang dulunya terkesan acuh tak acuh kepada puisi sekarang mulai tertarik dan merilik lirik atas keberadaan puisi dan berusaha mengenalnya lebih dalam dengan menelaah makna yang terkandung didalamnya, baik yang tersirat maupun yang tersurat. Ketertarikan tersebut semakin kuat saat penulis berusaha menyelami puisi-puisi yang terdapat dalam buku “Perayaan Laut” karya Setia Naka Andrian. Beliau  sebagai  sumber ide dalam buku tersebut merupakan sosok yang berpengalaman, bisa terlihat pada bagian buku beliau halaman 106. Penulis semakin dibuat tertarik terhadap puisi.  Hal itu semakin mengerut ketika pandangan penulis tertuju pada sebuah puisi berjudul “Emansipasi Mutakhir”. Saat membaca judulnya penulis bertanya-tanya kemutakhiran yang seperti apa yang dimaksud. Rangkaian kata-kata yang indah, penyusunan diksi yang tersusun rapi dan penuh makna semakin membuat penulis menjadi tertarik dan penasaran.
Persamaan antara pria dan wanita apabila diibaratkan sudah sama, lalu apa yang kemungkinan terjadi selanjutnya , kontribusi apa yang bisa diberikan atau dilakukan oleh si wanita. Apakah akan terjadi kemajuan peradaban yang signifikan atau bahkan malah berdampak sebaliknya. Disisi lain posisi wanita sebenarnya masih memiliki tanggungan lahiriah yang tetap tak jauh dari urusan dapur, urusan anak ataupun mengenai urusan tentang mendampingi pria. Apakah memang masih perlu kesamaan hak seutuhnya antara wanita dan pria? Emansipasi yang seperti apa yang pas ditujukan bagi kaum wanita dengan tidak melalaikan tanggungan lahiriah mereka.
Dilihat dari segi ekonomi, apabila emansipasi berguna untuk membantu peningkatkan kemakmuran keluarga manusia sepertinya akan sama saja dan tidak akan ada ujungnya karena manusia sering merasa selalu kurang. Apalagi jika pada akhirnya emansipasi untuk mendorong kemakmuran ekonomi tersebut menjadi jalan wanita untuk menjajakan dirinya sebagai kupu kupu dini hari dan berpulang saat fajar. Semakin mengkhawatirkan lagi apabila suatu saat emansipasi mutakhir terus berjalan tanpa batas dan henti, anak-anak kota semakin sulit menghafal jati diri mereka dari ibu karena akibat sudah dibiasakan diurus oleh orang lain sebagai efek kesibukan dari kedua orang tuanya, terutama ibu.  



Nama  : Nichlatul Nadya Ulfa
NPM   : 14410123
Kelas   : 4 C

(NB; alhamdulillah akhirnya tulisan ini bisa termuat juga guna memenuhi tugas kuliah dalam blog setelah beberapa kali terjadi pengiriman gagal sejak kemarin ^^ #jaringan kurang mendukung )

Minggu, 15 Maret 2015

Partisipasi Mahasiswa untuk Koban Tanah Lonsong Banjarnegara


Relawan mahasiswa Universitas PGRI Semarang mengadakan penggalangan bantuan untuk berpatisipasi  membantu korban bencana tanah longsor di Banjarnegara Jawa Tengah. Hal itu serempak dilakukan satu minggu setelah bencana itu terjadi. Seperti yang terjadi pada tanggal 16 Desember 2014. Mereka melakukan kegiatan penggalangan bantuan dengan berbagai cara untuk menarik perhatian orang-orang di sekitar.
            Berita bencana tanah longsor yang terjadi di Banjarnegara (12/12) cukup menggemparkan masyarakat Indonesia. Terutama di wilayah provinsi Jawa Tengah, termasuk kota Semarang. Hal itu membuat para mahasiswa Universitas PGRI Semarang ingin memupuk rasa empati dan solidaritas kemanusiaan terhadap korban bencana tanah longsor. Bantuan tersebut bermacam-macam bentuknya, bisa berupa sumbangan uang, pakaian, bahan makanan, ataupun peralatan-peralatan yang dapat berguna bagi para korban bencana. Bahkan, bantuan secara psikologis juga bisa diterima.
Mereka terdiri dari berbagai organisasi mahasiswa, mulai dari organisasi-organisasi tingkat progam studi, organisasi  tingkat fakultas, hingga organisasi tingkat universitas. Seperti BEM, Himpunan Mahasiswa, UKM-UKM , dan komunitas-komunitas di kampus. Walaupun kegiatan tersebut dilakukan secara terpisah-pisah, mereka memiliki niat yang sama untuk membantu korban bencana.

Di waktu-waktu antara jam perkuliahan, mereka menyempatkan diri untuk berkumpul di pos-pos tertentu yang sudah disepakati sebelummnya. Lalu mereka menggalang bantuan bagi korban bencana. Kegiatan itu dilakukan dari pagi sampai sore hari, tapi tentu saja secara bergantian. Contohnya yang dilakukan oleh UKM musik , IMMORTAL. Mereka bernyanyi di depan klinik Universitas PGRI dari pagi hinggga sore hari.

Selasa, 10 Maret 2015

Bayang – Bayang di Balik Pintu




            Mentari diufuk barat sudah tenggelam. Pelan-pelan namun pasti suasana keredupan mulai terasa. Lantunan lafad-lafad adzan menggema di sana sini. Gemericik air di samping sebuah asrama pondok pesantren mulai terdengar, riuh para santriwati putri berebut wudlu sebelum melaksanakan sholat magrib berjamaah. Pada saat itu Latul dan Icha masih duduk santai hingga antrian wudlu mulai sepi.
            “Dek, ko masih duduk saja? Nggak ambil wudlu?” tanya mbak Mufa, salah seorang pengurus pondok.
            “Iya mbak,nanti kalau sudah mandi hadats,” jawab Latul dengan nada bercanda.
            “Oo…Sedang halangan tho, iya udah sana gi pada masuk ke asrama, nggak baik jam-jam segini masih duduk-duduk disini,” tegur mbak Mufa
            “ Iya mbak,” sahut Icha dengan nada asal-asalan.
            Beberapa saat, suasana menjadi hening sejenak. Mereka berdua masih saja duduk di tempat itu tanpa menghiraukan ajakan mbak Mufa yang sudah pergi dari tempat itu. Latul memandang Icha sesaat.
            “Yuk tul, kita masuk ke dalam, udah banyak nyamuk nich,” kata Icha sembari menepuk bahu Latul.
            “Iya,” jawab Latul singkat.
            Sesampainya mereka di asrama, lebih tepatnya berada di kamar mereka,kamar siti khodijah yang berukuran 8x6 m itu dihuni oleh enam orang, kebetulan satu orang sedang pulang kampung, dua orang sedang berada di langgar pondok, dan dua orang lainnya yakni Latul dan Icha yang mengaku sedang halangan.Jelas cerita, sebenarnya dalam masanya Icha sudah waktunya untuk bersuci. Akan tetapi, karena sikapnya yang suka bermalas-malasan dia nekat untuk memperpanjang masa haidnya tanpa menghiraukan akibatnya.Dilain pihak, temannya yang bernama Latul, dia emang baru beberapa hari mengalami haid ,jadi maklum saja kalau tadi Latul memperhatikan Icha ketika masih duduk-duduk di teras samping asrama ponpes.
Dari kamar sebelah, tiba-tiba terdengar suara mbak Umi memanggil manggil.
            “Tul, Latul…?” panggil mbak Umi.
“Iya, dalemb mbak Umi, ku disini mbak,” sahut Latul.
“Disitu rupanya,” kata mbak Umi menghampiri kamar siti khodijah.
“Iya mbak, ada perlu apa ?” sapa Latul dari kamar.
“Dek, kitabku yang kemaren masih kamu  bawa kan? Kalau masih, mau aku pinjam dulu sebentar buat referensi bahan pembelajaran , persiapan buat test besok,” kata mbak Umi mulai memasuki kamar.
“Oo…gitu, tenang saja. Masih aku simpan di lemari kitab. Tunggu sebentar ya, ku ambilkan dulu,” Kata Latul yang kemudian menuju ke almari kitab dan mencoba untuk mencari-cari benda yang dimaksud.
            Disisi lain dari kamar itu, ternyata ada Icha sedang asyik mengobrak-abrik isi lemari pakaianya seolah-olah juga sedang mencari-cari suatu barang. Dan tersadar kalau disitu juga ada mbak Umi.
            “Mbak Umi?” sapa Icha.
             “Iya… Hlo ada Icha ternyata, ndak pergi ke langgar kamu nok?” kata mbak Umi yang baru menyadari kalau Icha juga ada di situ.
            “Ndak mbak, lagi males… Lagian ku masih halangan o,” jawab Icha.
            “Oo… Beneran nggak itu? Perasaan udah seminggu lebih halangannya,” gurau mbak Umi.
            “Jangan bohong dek. Kalau udah waktunya ia cepet-cepet buat bersuci, jangan di undur-undur,” Lanjutnya dengan ekspresi sama.
            “Endak o… Kemaren emang sempet mau mandi hadast, tapi masih ada bercaknya. Ku takut kalau masih belum bersih. Oia mbak, sampean udah nyuci belum?” kata Icha mulai membereskan lemarinya.
            “Udah, tadi sore. Rencananya mau malem  ini, ntar bareng-bareng sama mbak Mufa sehabis makan malam.Tapi nggak jadi, tadi siang tiba-tiba ku di panggil sama Ummi, Ummi bilang suruh aku  buat nemenin neng Dana belajar. Abis denger itu, ia udah langsung cepet-cepet aja ngantri nyuci,” jelas mbak Umi.
            “Yaahh…Ku kira belum,” kata Icha sedikit kecewa.
            Tak berapa lama, Latul datang sembari menyodorkan sebuah kitab kuning besar bersampul kertas mika dengan rapi.
            “Mbak, ini kitabnya. Beneran yang ini kan?” tanya Latul.
            “Mana? Coba sini ku mau lihat ! Oo iya, betul. Makasih ya,” jawab mbak Umi menerima kitab itu dan memperlihatkannya sekilas kitab itu sudah lama di pinkam oleh Latul. Jadi dia mencoba untuk meneliti halaman per halaman kalau saja ada halaman yang sudah hilang.
“Eia, tadi denger-denger mbak Umi mau nemenin neng Dana ya,” sahut Latul memecahkan perhatian mbak Umi terhadap kitab lamanya.
“He’em, tadi Ummi bilang kalau si eneng Dana pengen ditemenin, soalnya lagi sendirian di rumah,” Kata mbak Ummi masih membuka-buka halaman kitabnya.
“Ooo…Jadi nanti nggak ada ceramah malam donk.Asyik,” sahut Icha dengan gembira menyela pembicaraan mbak Umi dengan Latul.
“Aduhh…Senangnya temanku yang satu ini kalau ndenger kabar kaya gitu,” cemooh Latul sambil tetawa asal-asalan.
            Sejenak mereka terdiam, membuat Latul cukup bingung dan malu atas perkataan yang baru saja di lontarkannya, dia takut kalau kata-katanya tersebut menyinggung perasaan Icha.Tiba-tiba mbak Umi tersenyum-senyum sendiri dan kemudian di ikuti  dengan Icha.Mereka tertawa-tawa sendiri membuat  Latul sedikit lebih  lega. Suasana menjadi santai kembali.
“Iya mungkin,” sahut mbak Umi memulai pecakapan.
“Tapi emang bener nggak apa-apa donk. Bisa dimanfaatin tuh buat nyuci bajuku yang udah numpuk,” celoteh Icha beranjak dari ranjangnya dan mulai memunggut baju-baju kotornya yang sudah disiapkan di dekat lemari.
“Lho ? Belum nyuci to kamu ?” tanya Latul agak kaget.
 “Belum,” jawab Icha
“Lha yang tadi sore itu? Bukanya udah aku antrein,abis giliranku,” sanggah Latul.
“Hehe… nggak jadi, tadi ku suruh Hanik buat nyuci duluan.Lagi males, lebih enakan nyuci malem-malem, lebih rame,” jawab Icha tanpa eksperi rasa bersalah.
“Kamu itu lucu dek, masak malam- malam itu rame,” sanggah mbak Umi.
“Lho bener kan. Biasanya mbak-mbak ndalem nyucinya suka malam-malam. Apalagi ini malam jum’at besok pagi pelajaran pondok libur,jadi lebih bisa leluasa, masa ndak pada nyuci,” omel Icha mencoba membela diri.
 “Iya, tapi apa kamu lupa kalau besok itu ada ujian test kitab kuning dari Abbah sama Ummi. Jadi, so pasti malam ini mau pada konsentrasi buat persiapan acara besok,” jelas mbak Umi.
“Mbak- mbak kalau nyuci mungkin larut malem, ku yakinin kalau kau pasti sudah tertidur,” lanjutnya kembali.
Icha hanya terdiam membisu tetapi ekspresi mukanya menampilkan bahwa dia sedang menyesal sekaligus kecewa.
Latul melanjutkan pembicaraan dengan nada emosi  sedikit tertahan “Kamu sih, juga gitu. Tadi sore udah enak-enak aku antriin abis giliranku.Eee… Malahan dikasih ke orang lain,”
“Hehe…Maaf tul, tadi badanku lagi pegel-pegel,” kata Icha mencoba membela diri dengan alasan-alasan tidak jelas .
“Ntar temenin aku ya?” lanjut Icha sedikit ragu-ragu.
“Ndak bisa cha. Ku juga mau siap-siap buat test besok,” jelas Latul mulai jengkel dengan sikap Icha.
“Nyuci baju sendiri saja dek.Salah sendiri tadi sore nggak mau nyuci, nggak akan terjadi apa-apa kok,” sela mbak Umi tegas.
            Icha yang tadinya bicara menjadi terdiam, memandang dengan wajah sebal dan kemudian bergegas untuk mengambil pakaian kotornya .
“Iya udahlah kalau begitu… Ku mau nyuci dulu ya,” kata Icha dengan lirih.
 Kemudian Icha pergi keluar dari kamar itu dan menuju sisi samping dari asrama pondok ,dimana tempat yang biasa di gunakan oleh santriwati putri untukmencuci baju.
Beberapa saat kemudian, Icha sudah siap dengan pakaian kotor  dan semua perlengkapan mencucinya. Angin malam mulia menyambutnya dengan suasana keheningan. Kebetulan sang rembulan sedang malu-malu memperlihatkan dirinya dan sedang bersembunyi di antara awan-awan hitam.Awan-awan hitam, ya malam itu udara cukup dingin dari pada biasanya, akan tetapi suasana itu tidak terlalu dihiraukan oleh Icha.
“Baru dimulai yasinannya,” kata Icha tersadar ketika mendengar suara- suara lantunan ayat- ayat surah yasiin yang sedang dibacakan oleh para santriwati di langgar mulai terdengar.
            Angin malam kembali menerpa tubuh Icha, semakin lama semakin kencang. Pintu-pintu kamar mandi disamping tempat itu bergoyang-goyang membuka menutup dengan sendiri. Suasana mulia terasa dingin, tapi Icha masih asyik sibuk dengan cuciannya dan tetap cuek dengan disekililingnya yang mulai terasa aneh. Sesekali kilatan petir mulai menghiasi langit hitam pada saat itu, dan suara bergemuruh juga terdengar silih berganti.
            “Sepertinya bakalan turun hujan nich,” gumam Icha pada dirinya sendiri.
Icha mulai tersadar akan suasana disekelilingnya yang semakin dingin ketika satu kilatan kecil hendak menyambar pohon disamping tempat ia mencuci pakaian. Icha cukup terkejut akan hal itu, bulu kuduk di bagian lehernya terasa mulai berdiri.
            “Apaan tuh!!” teriak Icha terkejut.
Suara gemuruh kian terdengar menggelegar di antara awan-awan hitam. Icha tertahan memperhatikan area sekelilingnya, dia mulai merasa merinding.Gerimis kecil air hujan mulai turun, Icha masih tetap berkeinginan untuk menyelesaikan cuciannya. Dengan tergesa-gesa, dia melanjutkan mencuci.Ketika sudah hampir selesai, air hujan sudah turun semakin deras dan membasahi tempat itu. Membuat Icha cukup basah kuyup karena belum sempat untuk melarikan diri. Icha melompat kecil  sambil meneteng ember berisi pakaiannya yang sudah siap untuk dijemur. Icha membawa ember tersebut ke tempat biasa para santriwati menjemur pakaian. Ketika sudah sampai, Icha menyalakan lampu jemuran, untuk meneranginya ketika menjemur pakaian. Tapi lampu itu tetap mati.Setelah beberapa kali di coba untuk menyalakanya, ternyata lampu jemuran tetap tidak menyala.Akan tetapi masih beruntung ada lampu-lampu sekitar pondok yang mampu menerangi samar-samar  tempat  itu, setidaknya tempat itu tidak menjadi gelap gulita. Dan terpaksa Icha harus meberanikan diri untuk tetap menjemur agar pekejaannya cepat selesai.
            Tiba-tiba cahaya kilatan petir menyambar tepat di depan dia berdiri. Suasana lebih mencekam. Icha mulai tersadar kalau ternyata suara-suara yang ada di langgar mulai terdengar lirih, dan di ganti dengan suara gemuruh petir.
            Kilatan cahaya petir menyambar kembali tempat itu, akan tetapi kali ini lebih mencekam, sesosok gadis berpakaian putih-putih menatap pandangan kosong kea rah Icha. Serantak Icha langsung tersentak kaget dan menjerit ketakutan. Icha mencoba lari dari tempat itu. Akan tetapi tanpa sadar dia terpeleset oleh genangan air di belakangnya dan terpelanting keras membentur tanah.Sayang pada saaat itu tidak ada orang yang mengetahui kejadian tersebut. Icha terperungkup sendiru hingga baju dan badannya kotor terkena air hujan .Hingga beberapa menit kemudian,seorang santriwati putri melihat Icha ketika hendak pergi ke kamar mandi.
Santriwati itu kemudian berteriak-teriak meminta bantuan. Dan tidak menunggu terlalu lama, datanglah beberapa santriwati lainnya. Mereka terlihat kebingungan.
“Ada apa nok ?” kata salah satu diantara mereka.
“Ini mbak, ada santriwati putrid yang pingsan,” kata santriwati yang menemukan Icha.
“lho, ko bisa ada di sini ?” sahut yang lainnya.
Sebelum di jawab, terdengar suara mbak Mufa yang sedang berusaha menyelinap dalam kerumunan.
“Permisi – permisi ya ukhti, ada apa ini rame – rame di sini ?” tanya mbak Mufa.
Semuanya menoleh ke arah mbak Mufa.Tidak ada yang berani menjawab. Ketika mbak Mufa sampai di tengah – tengah kerumunan, dia tercengang ada santriwati putri yang tergeletak di depannya.
“Innalillahi. Icha ? Apa yang sedang terjadi ?”  desah mbak mufa kebingungan.
“Ndak tau mbak, tadi tiba – tiba aku melihatnya sudah dalam keadaan seperti ini,” jelas santriwati putri yang pertama menemukan Icha.
“Mmm… Kalau begitu ayo tolong di bantu bawa Icha ke asrama,” kata mbak Mufa.
Mereka kemudian saling bantu untuk mengangkat Icha dan membawanya ke asrama, dan sebagian lainnya ada yang membereskan cucian Icha yang tumpah ke tanah.
Sesampainya di asrama, Icha kemudian di baringkan di kamarnya. Wajahnya terlihat pucat karena kedinginan, dan ada luka benturan di bagian kepalanya. Kebetulan keadaan kamar itu sedang sepi, jadi sekalian saja baju Icha yang kotor dan basah kuyup karena air hujan itu di ganti.                                                         
“Mana si Latul ? tumben nggak ada,” tanya mbak Mufa kepada santriwati yang menemaninya.
“Ehm… Hei, ada apa aku di sii…ni,” sahut Latul memasuki kamar Siti Khodijah.
Kata – katanya tersendat ketika melihat Icha berbaring di tempat tidur.
“Waahh… ini dia , panjang umur kamu tul,” kata salah satu temanya yang sedari dulu menemani mbak Mufa.
            “Dek, sudah datang ternyata. Temani dulu ya temanmu ini, kasian dia kedinginan,”  kata mbak Mufa.                      
            “Iya… tapi, Icha ini kenapa mbak ?” tanya Latul kebingungan.
            “Ndak kenapa – kenapa . Tadi dia pingsan dan kedinginan di luar,” kata mbak Mufa menenangkan Latul.
            Sejenak suasana menjadi hening. Pembacaan surah yasiin dan tahlil di aula pondok sudah selesai, sebagian santriwati ada yang masih menetap di aula, dan sebagian dari lainnya sudah kembali ke asrama. Keadaan di asrama tidak terlalu heboh karena kejadian yang menimpa Icha. Karena sebelumnya, mbak Mufa sudah berpesan kepada santriwati yang mengetahui kejadian tersebut untuk tidak perlu bercerita kepada yang lain.
Luka benturan yang ada di kepala Icha sudah di kompres. Sudah hampir setengah jam lebih Icha pingsan, akhirnya Icha mulai siuman. Kepala Icha terasa pusing, bagaikan ada sebuah palu besar yang sedang memukul-mukul kepalanya. Icha mulai melihat sekelilingnya. Dia sudah berada di kamar, pikirnya. Dia melihat Latul dan teman satu kamarnya sedang duduk-duduk tak jauh dari tempat tidurnya.
Setelah rasa sakit yang di dera kepalanya mulai berkurang, dia mencoba untuk bangkit, setidaknya barusaha untuk duduk di tempat tidur.               
“Hey… sudah bangun rupanya,” sapa Latul.          
Icha hanya tersenyum, kepalanya masih terasa sakit sehingga belum begitu dapat merespon keseluruhan apa yang baru di ucapkan temannya itu .        
“Ini cha’ , ada buah kurma. Tadi Ummi datang ke sini menjengukmu dan menitipkan ini pada mu,” kata Latul sambil menyodorkan kantong plastik yang berisi buah kurma segar.
“Ummi ?” tanya Icha. 
“Iya… Tadi kamu pingsan di tempat jemuran , badanmu basah kuyup kena hujan. Kita tadi sempet panik ngeliat kamu, mbak Mufa juga tadi nemenin kamu. Dan mungkin iya, mbak Mufa juga bilang sama Ummi,” jelas Latul.
Icha hanya diam , terenung mengingat kejadian yang baru saja ia alami.
“Mmm, tadi itu kamu kenapa to ? semua orang bingung ngeliat kamu tiba-tiba jatuh pingsan . perasaan sebelum nyuci kami baik-baik saja kan ?” tanya Latul penuh perhatian.
Kemudian secara perlahan-lahan ,Icha berusaha untuk menceritakan kejadian yang di alaminya sebelum ia jatuh pingsan. Latul mendengarkan dengan seksama, Latul sempat merinding mendengar cerita Icha, walapun sebenarnya dia berusaha untuk tidak percaya tentang hal semacam itu.
“Ahh.. Masak sih cha’ , masa ia di pondok kita ada gituan. Ngaco kamu , ini kan ponpes tempatnya orang untuk mengaji,” kata Latul seolah-olah tidak percaya akan cerita Icha.
“Astagfirullahaladzim, Latul.Ini beneran. Ngapain aku bohong,” kata Icha meyakinkan.
“Kau membuat ku jadi merinding cha,” sahut Latul sambil sesekali mengelus lehernya, memastikan bulu kuduknya tidak berdiri.       
“Ku sebebernya juga masih takut tul,” kata Icha sambil menoleh kanan kiri.
Sesaat kemudian, mbak Mufa dan mbak Umi masuk ke kamar Siti Khodijah. Mereka tersenyum karena Icha sudah siuman.      
“Gimana dek ? udah baikan?” tanya mbak Mufa.
“Iya.. Alhamdullah, lumayan,” jawab Icha.
Sesuai tebakan Icha dan Latul mbak Mufa dan mbak Umi juga menanyakan kejadian yang menimpa Icha sembelum ia pingsan. Dan cerita yang sama akhirnya di ceritakan kembali oleh Icha.Lucunya, respon yang sama  dengan  respon Latul juga di terima lagi oleh Icha dari kedua mbak pondoknya itu.
“Elechh.. mbak,mbak .. kalian ama Latul tu sama, sama-sama nggak percaya. Tadi tu emang beneran. Kalau enggak, ngapain coba aku tadi tiduran di tempat jemuran,” kata Icha mulai sebal.
“Hehe… Masalahnya, selama kakak berada di sini tu ya nggak ada kejadian-kejadian kayak gitu. Semuanya ia tentram- tentram aja,” kata mbak Umi.
“Tapi nggak apa-apa dek. Kalau adapun, paling itu dari jenis yang baek-baek. Karena kan ya , kita emang harus percaya kan kalau di sekeliling kita juga ada makhluk-makhluk Allah yang lain, baik itu abstrak maupun non abstrak. Lagian bisa aja kan kalau makhluk Allah yang satu itu juga ingin mencari ilmu di sini. Dan mungkin saja yang tadi kamu liat itu hanya imajinasi kamu, kalau endak ya mungkin dia pengen menampakkan dirinya kalau dia juga ingin belajar disini. Husnudzan saja dek. Ndak perlu terlalu jadikan sebagai trauma,” jelas mbak Mufa.
 “Hlo emang hal yang kaya gitu juga sekolah ya mbak ?” tanya Latul.       
“Iyaa… iya kan. Kehidupan mereka pun tak jauh berbeda dari kita ,ada yang baek ada yang jahat , ada yang suka menggoda manusia, ada juga yang suka membantu manusia. Mereka juga ada yang sekolah, sholat dan lain-lain .Cuman mungkin ada beberapa hal yang berbeda, salah satunya kita itu abstrak dan mereka itu non abstrak,” jelas mbak Mufa lagi.
“Wahh – wahh… Udah siap jadi ustadzah ni kayaknya,” canda mbak Umi menyegarkan suasana.
“Hmm… betul, betul ,betul,” tambah Icha menggoda.
“Ish, kalian ini ,” kata mbak Mufa dengan mimik wajah seakan-akan terlihat sebal.
“Ndak apa-apa mbak, Di aminin aja. Seenggaknya doa biar cepet wisuda. Hehehe,” kata Latul
“He’em. Betul juga. Iya udah kalau gitu. Amiiin,” sahut mbak Mufa.
Kemudian mereka saling bercanda untuk menghibur diri, setidaknya untuk refreshing sebelum ujian test kitab kuning besok pagi.
Dalam candanya bersama teman- temanya, Icha terenung tentang penjelasan dari mbak Mufa ,Icha menjadi teringat akan ceramah yang di berikan oleh Abbah.Dan tentu saja lebih lengkap dan lebih detail.  Dan dia juga merenungkan kejadian yang di alaminya ,menjadi pembelajaran dan bukti akan kekuasaan Allah menciptakan makhluk-makhluknya.Subhanallah.

SELESAI